Selasa, 24 November 2009

NEGARA DAN KEKUASAAN


I.NEGARA
Awal Mula Bangsa dan Negara.
Rasa kebangsaan adalah satu bentuk rasa cinta atau pusat gabungan berbagai rasa cinta yang sedemikian besarnya sehingga melahirkan jiea kebersamaan penganutnya (korzak), mereka membentuk lagu, bendera dan lambang.
Lagu berfungsi melahirkan berbagai rasa kebangsaan,bendera dan lambang dibuat bentuk warna sebagai kultur suatu bangsa sehingga menimbulkan pembelaan yang besar dari pemiliknya. Ketika suatu suku memenangkan pertandingan dalam suatu perlombaan maka lambang dan dan bendera merupakan simbol yang dijaga untuk dikibarkan dan dinaikkan, lagu-lagu diputar untuk memeriahkandiharapkan jiwa mengalami kegembiraan dan emosi yang pada gilirannya bersedia mati dalam kopndisi yang dihadapi.
Dalam kebangsaan atau negara dan bangsa yang yang terbentuk pasti terdapat terdapat ras, bahasa, agama batas wilayah, budaya, dan lain-lain. Diharapkan akan lahir suatu sistem nilai pandangan hidup yang sama dengan memunculkan ideologi untuk mempersatukan pemeluknya.

Definisi Negara
Aristoteles (384-322), dalam buku Politica merumuskan pengertian negara sebagai polis yaitu negara kota, yang berfungsi sebagai tempat tinggal bersama warga negara, dengan pemerintah dan benteng untuk menjaga serangan musuh.
Mr. Kranerburg: Negara adalah suatu organisasi yang timbul karena kehendak dari suatu golongan atau bangsanya sendiri.
Hugo de Groot (Grotius): Negara merupakan ikatan manusia yang insyaf akan arti dan panggilan hukum kodrat.

Hakikat Negara
Negara adalah kelompok terbesar, jadi bukan PBB, ASEAN, bukan pula persekutuan dari beberapa negara, karena ikatan negaralah yang paling dominan menguasai batin manusia dan tempat utama manusia untuk berinteraksi antar sesama atau makhluk sosial.

Teori Asal-Usul Negara
a)Teori Ketuhanan, negara terjadi atas kehendak Tuhan, nampak pada UUD nya atas berkat Tuhan Yang Maha Esa, penganutnya adalah Agustinus, Yulius Stahi, Haller, Kranenburg dan Thomas Aquinas.
b)Teori Perjanjian Masyarakat, negara terjadi karena adanya perjanjian masyarakat yang mengikat diri untuk mendirikan suatu organisasi yang bisa melindungai dan menjamin kelangsungan hidup bersama. Penganutnya adalah Thomas Hobbes, John Locke, JJ Rousseau dan Montesquieu
c)Teori Kekuasaan, negara terjadi karena adanya kekuasaan yang paling kuat. Penganut teori ini adalah H.J. Laski, L. Duguit, Karl Marx, Oppenheimer dan Kollikles.
d)Teori Hukum Alam, negara terjadi karena kehendak alam yang merupakan lembaga alamiah yang diperlukan manusia untuk menyelenggarakan kepentingan umum. Penganut teori ini adalah Plati, Aristoteles, Agustinus dan Thomas Aquino.
e)Beberapa teori yang mengemukakan tentang asal-usul negara di antaranya, teori kenyataan, teori penaklukan, teori daluwarsa, teori alamiah, teori filosofis dan teori historis.

Teori Kedaulatan Negara
1.Teori Kedaulatan Tuhan
Yaitu kepala negara dianggap anak Tuhan, sehingga tidak ada kemungkinan untuk membantahnya.
2.Teori Kedaulatan Rakyat
Kepala negara dipilih dari rakyat karena rakyatlah yang merupakan kedaulatan tertinggi.

3.Teori kedaulatan negara
Segalanya demi negara, karena negara yang menurut kodratnya mempunyai kekuasaan mutlak.
4.Teori Kedaulatan Hukum
Segalanya berdasarkan hukum, karena yang berdaulat adalah hukum, kekuasaan diperoleh melalui kekuasaan hukum.

Tetapi Herodotus membagi penguasaan tersebut sebagai berikut:
1)Monarchi: bentuk negara yang dalam pemerintahannyahanya dikuasai dan diperintah oleh satu orang saja.
2)Oligarki: bentuk negarayang dipimpin oleh beberapa orang. Biasanya model negara ini diperintah oleh kelompok orang yangberasal dari kalangan feodal.
3)Demokrasi: bentuk negara yang pemerintahan tertinggi terletak ditangan rakyat. Dalam bentuk negar ayang demokratis, rakyat memiliki kekuasaan penuh dalam menjalankan pemerintahan.

Menurut Plato bentuk diatas adalh bebtuk baiknya,sedangkan bentuk buruknya adalah:
1)Tirani adalah penguasaan oleh satu orang secara buruk.
2)Aristokrasi adalah penguasaan oleh sekelompok orang secara buruk
3)Mobrokasi adalah penguasaan oleh orang banyak secara buruk.
Aristoteles mengemukakan bentuk pemerintahan sama dengan yang dikatakan Plato (gurunya), akan tetapi menyebutkan istilah yang beda dengan point ke-tiga:
1)Tirani adalah penguasaan oleh satu orang secara buruk.
2)Aristokrasi adalah penguasaan oleh sekelompok orang secara buruk
3)Okhlokrasi adalah penguasaan oleh orang banyak secara buruk.

Bentuk-Bentuk Negara
1)Negara Republik:
a.Negara Republik Serikat dibagi menjadi dua yaitu: negara republik serikat parlementer, ex India. Dan negara republik serikat presidentil, ex Amerika serikat.
b. Negara republik kesatuan dibagi menjadi dua: negara republik kesatuan parlementer, ex: Perancis. Dan negara republik kesatuan presidentil contoh Indonesia.
2) Negara kerajaan:
a.Negara kerajaan serikat dibagi menjadi dua: negara kerajaan serikat parlementer, ex Malaysia. Dan negara kerajaan serikat non PM,ex tidak ada.
b.Negara kerajaan Kesatuan dibagi menjadi dua: negara kerajaan kestuan parlementer, ex Inggris. Dan negara kerajaan kesatuan non PM, ex Arab Saudi.

Syarat-syarat Negara
1. Rakya/warga negara
Rakyat diartikan sebagai sekumpulan manusia yang memiliki persamaan dan bersama-sama mendiami suatu wilayah tertentu: masyarakat, penduduk, dan warga negara.
2. Wilayah Negara
Wilayah Negara mutlak di perlukan untuk tempat tinggal rakyatnya dan pemerintah menjalankan pemerintahannya yang terdiri dari :
a. Daratan (Wilayah darat)
b. Perairan (Wilayah Laut)
c. Wilayah Udara
3. Pemerintah yang Berdaulat
Pemerintah adalah badan yang mengatur urusan sehari-hari yang menjalankan kepentingan – kepentingan bersama. Terdapat penfelompokan sistem-sistem pemerintahan yakni: Sistem pemerintahan parlementer, presidensial, campuran, dan sistem kediktatoran proletariat.
4. Pengakuan dari Negara Lain
Pengakuan atas terbentuknya Negara terbagi menjadi 2 yaitu pengakuan de facto dan pengakuan de iure, secara de facto Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, secara de iure Indonesia di akui dunia internasional sejak tanggal 18 agustus 1945.

II.KEKUASAN
Filsafat Kekuasaan.
Secara umum dapat dikatakan bahwa kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau sekelompok manusia untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang atau kelompok lain sedemikian rupa sehingga tingkah laku itu sesuai dengan keinginan dan tujuan dari orang yang memiliki kekuasaan itu (Budiardjo, 1993 : 35). Inilah “kesepakatan umum” mengenai makna dan definisi kekuasaan, yang dikembangkan dari rumusan Laswell dan Kaplan dalam karya mereka yang berjudul Power and Society (Yale UP, 1950). Meskipun demikian, diantara para pemikir politik tetap terdapat sedikit perbedaan titik pandang atau penekanan (stressing), terutama dalam hal konteks dimana kekuasaan itu berlaku, atau siapa yang memegang dan menjalankan kekuasaan itu. Dalam konteks ini, konsep tentang kekuasaan politik merujuk kepada kemampuan untuk mempengaruhi kebijaksanaan umum (pemerintah) baik terbentuknya maupun akibat-akibatnya sesuai dengan tujuan-tujuan pemegang kekuasaan sendiri. Kekuasaan politik ini merupakan sebagian dari kekuasaan sosial yang fokusnya ditujukan kepada negara sebagai pihak yang berhak mengendalikan tingkah laku masyarakat dengan paksaan. Oleh karenanya, cakupan kekuasaan politik tidak hanya meliputi ketaatan dari masyarakat, tetapi juga menyangkut pengendalian orang lain dengan tujuan untuk mempengaruhi tindakan dan aktivitas negara di bidang administratif, legislatif dan yudikatif (Budiardjo, 1993 : 37).
Secara lebih lengkap, beberapa pengertian legitimasi atau keabsahan seperti yang dikumpulkan oleh Budiardjo (1994 : 90-91), dapat dikemukakan sebagai berikut :1
a. Legitimasi adalah keyakinan anggota-anggota masyarakat bahwa wewenang yang ada pada seseorang, kelompok atau penguasa adalah wajar dan patut dihormati.
b. Legitimasi adalah the conviction on the part of the member that it is right and proper for him to accept and obey the authorities and to abide by the requirements of the regime (David Easton, System Analysis of Political Life, 1965).
c. Legitimasi mencakup the capacity to produce and maintain a belief, that the existing political institutions or forms are the most appropriate for the society (Seymour Martin Lipset, Political Man : The Social Basis of Politics, 1969).
Sumber Kekuasaan.
1.pengangkatan dan atau pemilihan.
2.Coersive Power adalah perolehan kekuasaan melalui cara kekerasan, bahkan mungkin bersifat perebutan kekuasaan yang bersifat inkonstitusional.
3.Expert power adalah perolehan kekuasaan melalui keahlian Legitimate power adalah perolehan kekuasaan melalui seseorang dalam memangku jabatan tertentu.
4.Reward power adalah perolehan kekuasaan melalui suatu pemberian, dimana orang atau kelompok yang taat kepada orang atau kelompok lain mengharapkan atau termotivasi oleh sejumlah uang pembayaran (misalnya gaji).
5.Reverent power adalah perolehan kekuasaan melalui daya tarik seseorang, baik aspek wajah, postur tubuh, penampilan atau sikap seseorang.
6.Information power adalah perolehan kekuasaan melalui penguasaan terhadap akses informasi, terutama dalam era teknologi komunikasi yang sangat modern seperti sekarang.
7.Connection power adalah cara memperoleh kekuasaan melalui hubungan (relation) yang luas, baik dalam bidang politik maupun perekonomian.

Pendapat Straus tentang bagaimana memotivasi seseorang setelah mencapai sesuatu kekuasaan dapat dilakukan memlalui beberapa cara, yakni: 2
1.Be strong Approach
2.Be good Approach
3.Competition
4.Internalized Motivation
5.implicit Bargaining.

Pembagian Kekuasaan
Menurut Gabriel Almond pembagian kekuasaan adalah sebagai berikut:3
1.Rule making function
2.Rule Application function
3.Rule Adjudication function
Menurut Montesque (1689 - 1755) dengan trias politikanya: 4
1.Kekuasan legeslatif: pembuat undang-undang.
2.Kekuasan eksekutif: pelaksana undang-undang.
3.Kekuasaan yudikatif: yang mengadili (badan peradilan)
Menurut John Locke (1632 - 1704): 5
1.Kekuasaan legeslatif.
2.Kekuasaan eksekutif.
3.Kekuasaan federatif (untuk memimpin perserikatan)

Menurut Lemaire: 6
1.Wetgeving: kewenangan untuk membuat undang-undang
2.Bestuur: kewenwngan pemerintahan
3.Politie: kewenwngan penertiban
4.Rechtsspraak: kewenangan peradilan
5.Bestuur Zorg: kewenangan untuk mensejahtrkan masyarakat.
Menurut UUD negara kesatuan Republik Indonesia 1945:
1.MPR memegang kekuasaan konstitutif.
2.Presiden memegang kekuasaan eksekutif.
3.DPR memegang kekuasaan legeslatif.
4.MA memegang kekuasaan yudikatif.
5.BPK memegang kekuasaan inspektif.
6.DPA memegang kekuasaan konsultatif.
Di Indonesia tidak ada pemisahan kekuasaan, melainkan pembagian kekuasaan.

Analisis Usaha Penangkapan Ikan di Muncar – Banyuwangi

Oleh : Kapal Motor Mutiara Jaya
Ide : dilatarbelakangi oleh tempat tinggal yang dekat dengan pelabuhan muncar yang berpotensi sebagai penghasil ikan yang cukup besar.
1. Penghitungan Hasil Penangkapan ikan KM. Mutiara Jaya / hari.
1 trip (sekali berlayar) = 1hari
Hasil tangkapan, rata-rata 2 ton / trip (sekali berlayar). Dengan rincian:
Ikan lemuru 75 % x 2000 kg = 1500 kg
1500 kg x Rp. 3500,- = Rp. 5250.000,-
Ikan layang 15 % x 2000 kg = 300 kg
300 kg x Rp. 7500,- = Rp. 2.250.000,-
Ikan tongkol 8 % x 2000 kg = 160 kg
160 kg x Rp. 10.000,- = Rp. 1.600.000,-
Lain-lain 2 % x 2000 kg = 40 kg
JUMLAH = Rp. 9.100.000,-
2.Perhitungan biaya operasi penangkapan
Bahan bakar:
Mesin induk
7 unit @ 35 L / hari x Rp. 5500,- = Rp. 1.347.500,-
Mesin bantu
2 unit @ 10 L / hari x Rp. 5500,- = Rp. 110.000,-
Oli pelumas 4 L / hari x Rp. 15.000,- = Rp. 60.000,-
Es 15 balok / trip x Rp.7500 = Rp. 112.000,-
Biaya tambat 2 unit kapal / hari @ Rp.1600,-= Rp. 3200,-
Makan 30 orang / hari @ 10.000 = Rp. 300.000,-
JUMLAH = Rp. 1.932.700,-

3. Modal yang dibutuhkan
2 kapal @ Rp. 500.000.000,- = Rp. 500.000.000,-
Mesin utama = Rp. 80.000.000,-
Mesin bantu = Rp. 10.000.000,-
Alat tangkap = Rp. 100.000.000,-
Alat komunikasi = Rp. 1000.000,-
JUMLAH = Rp. 691.000.000,-

4. Laba kotor
= hasil penjualan – biaya operasional
= Rp. 9.100.000,- – Rp. 1.932.700,-
= Rp. 7.167.300,-

5. Laba bersih
= laba kotor – pajak 10 %
= Rp. 7.167.300,- – 716.700
= Rp.6.450.600,-

Greenpeace Activists Block Palm Oil Shipment in Indonesia

10 November 2008, If the remaining forests and peatland in Riau are destroyed, they will release the equivalent of an entire year’s worth of global emissions.

Dumai, Indonesia — In the latest stage of the Esperanza's Forests for Climate tour around south-east Asia, activists have arrived in Dumai, Indonesia to block a palm oil shipment from departing for Europe. The shipment was supposed to leave from Dumai, a large port on the eastern coast of Sumatra and Indonesia’s main palm oil export port. Activists from the Esperanza left to expose three palm oil tankers anchored in Dumai port. Despite the crew of one ship blasting the activists with fire hoses, the team managed to paint “Forest Crime” and “Climate Crime” on the hull of all three ships, as well as the side of a barge loaded with timber from the rainforest.

Peatland protection

The largest ship to receive a new coat of paint was the Gran Couva, bound for Rotterdam in the Netherlands with 27,000 metric tonnes of palm oil from Wilmar, one of the largest palm oil companies in indonesia. Much of Sumatra's forest has been destroyed but small pockets remain, including one critical area of Riau. This area of forest is similar in size to Switzerland or Taiwan, but it grows in a thick layer of peat. When drained and burnt to make way for oil palm plantations, the peat releases huge quantities of greenhouse gas, contributing to climate change. If the remaining forests and peatland in Riau are destroyed, they will release the equivalent of an entire year’s worth of global emissions.

Fixed anchor for Forests

Following the exposure of these forest criminals with the painting of the ships, an activist climbed the anchor chain of the Gran Couva, and has secured himself there. This means the ship - and the palm oil it is carrying - have been immobilised and will not be leaving the port. For updates on the situation, read the During the ongoing tour of Indonesia, the crew of the Esperanza has witnessed massive conversion of Papua’s tropical forests for palm oil plantations in a concession near Jayapura operated by Sinar Mas, the largest palm oil company in Indonesia. They have also exposed ongoing forest destruction for timber in Papua, and discovered fresh forest clearances in concessions in the peatland forests of Riau. Greenpeace is calling on the Indonesian government to enforce an immediate moratorium on deforestation, as well as on the international governments to create a funding mechanism to provide international funds for forest protection in Indonesia and other forest countries.

05 January 2009

Climate Rescue Station, Poland, November-December 2008. International — Here's a look at all the efforts for a green and peaceful future that our supporters made possible in 2008. In 2008, we took action around the world - helping to create a toxic-free future; defending our oceans and protecting our ancient forests; we helped protect the polar bear from the ravages of climate change and we discovered a new species. Most importantly of all, we took action to catalyse an Energy [R]evolution, showing the world how to get from where we are now to where we need to be. We need to see the world's carbon emissions finally peak by 2015 before being cut by over 50 percent by 2050 - and as 2009 dawns, we come one year closer to this critical deadline. It's not just been actions - everything we do, we back up with science and solutions. Our Energy [R]evolution scenario provides the practical blueprint for the world's renewable energy future; our new edition, released in November, was launched with the help of a world leader who knew how to aim high. Our Forests for Climate proposal provides for an international funding mechanism that can protect tropical forests. We also opened a new office: 2008 saw the launch of Greenpeace Africa, with offices in South Africa and the Democratic Republic of Congo. With an office in Senegal to follow in the early part of the New Year, our presence in Africa furthers our efforts to be a truly global organisation.

Protecting our ancient forests

Destruction of the world's tropical rainforests has been one of the greatest ecological disasters of our time. Indonesia's 'paradise forests' are being felled at a faster rate than in any other major forested country - and this wholesale destruction is being driven by the world's largest food, cosmetics and biofuels producers. In 2008, Greenpeace took direct action against Unilever, one of the largest users of palm oil. This included a hugely successful online parody of Unilever's ad for its Dove soap product, which staggered the business world and reached the pages of The Wall Street Journal. Unilever announced in May that it would support our call for a moratorium - good news for the climate, good news for the orang-utan that calls the paradise forest its home, and good news for the indigenous peoples who depend on the forests for their livelihoods. 2008 also saw good news for the Brazilian Amazon, and worrying news for the forests of the Congo Basin.

Defending our oceans

During the summer, the Greenpeace ship Esperanza was busy defending the Western Pacific from pirate fishers and the world's largest tuna destroyer, while the Arctic Sunrise was defending the Mediterranean; although the International Commission for the Conservation of Atlantic Tunas rendered itself incapable of managing the recovery of bluefin tuna stocks in the Mediterranean and Eastern Atlantic, at the end of the year there was at least a glimmer of hope for Pacific bigeye and yellowfin tuna. In order to save fish for the future we've been calling on retailers and fish purchasers to stop buying all species that are overfished or caught using fish aggregation devices. We've been taking action to prevent destructive bottom-trawling in the North Sea. We've been tackling the pirates. And, we launched two new websites: one that supplies a list of those seafood species at high risk of being sourced from overfished stocks or being caught using destructive fishing methods, and one that provides an online database of fishing vessels involved in illegal, unreported and unregulated fishing and the companies that own them. We'll continue to push for a global network of fully protected marine reserves covering 40 percent of our oceans. This will help to buffer our seas from the ravages of climate change, restore the health of fish stocks and protect ocean life from habitat destruction and collapse.

Creating a toxic-free future

In February, our report 'Toxic Tech: Not in Our Backyard' showed how the fate of large quantities of electronic waste is unknown. Ghana was one place where our investigations uncovered high-tech toxic trash causing horrendous pollution. We've been pressurising the biggest electronic companies to phase out toxic chemicals and introduce global recycling schemes. Both of these are vital to tackle the growing tide of toxic e-waste. Some companies are making progress towards taking responsibility for the entire lifecycle of their products. However, Philips is one company that stood out in 2008 for refusing to accept responsibility for recycling its old products, and we've been there to demand that it lives up to its motto of 'Sense and Simplicity' and joins with other companies in stopping the dumping of e-waste in developing countries left to face the toxic legacy.

Catalysing an Energy [R]evolution

The Rainbow Warrior and the Arctic Sunrise spearheaded our call on the world to "Quit Coal", essential to a meaningful deal to save the climate. In a year in which Al Gore said, "I can't understand why there aren't rings of young people blocking bulldozers and preventing them from constructing coal-fired power plants" we were doing precisely that. And, in an unprecented court case in the UK, leading climate scientists came to our defence when the so-called Kingsnorth Six were tried for - and subsequently acquitted of - criminal damage to a coal-fired plant. The jury found our actions justified when considering the damage to property caused around the world by CO2 emissions from the plant. The need to quit coal was just one message we brought to governments in the run up to key climate negotations that took place in Posnan, Poland, in December. We continued to highlight the false solution of nuclear power - enjoying a hugely significant success in Turkey - and we put pressure on the EU to curb emissions from gas-guzzling cars. And, during the climate negotiations, we set up a Climate Rescue Station in Posnan to make sure they knew - as UN Secretary-General Ban Ki-moon reminded delegates when he opened the high-level segment of the UN Climate Change Conference - that the world would be watching. While we were disappointed with the lack of progress made at the UN climate negotiations, together with a depressingly diluted EU climate package, at least the pressure we all (and we mean everyone who sent a message, signed a petition, uploaded a photo for Greenpeace or any organisation) generated was enough to stop them from going backwards! The road towards the next UN climate meeting in Copenhagen in December, 2009 is a long one - but we'll be campaigning for an Energy [R]evolution and we're going to need your help to make it successful!

The Tokyo Two

Finally, to one of the major stories of 2008. Our year started with the Esperanza protesting the hunting of whales in the Southern Ocean Whale Sanctuary by the Fisheries Agency of Japan. We exposed scandal after scandal, and on May 15 our undercover investigations exposed the smuggling of large amounts of prime-cut whale meat from the whaling ship Nisshin Maru. Greenpeace activists Junichi Sato and Toru Suzuki - the 'Tokyo Two' - took a box of intercepted whale meat to the Tokyo public prosecutor as evidence of the whaling industry's embezzlement. However, in an absurd inversion of justice, they themselves were arrested and charged for stealing the box of whale meat, and the scandal investigation was dropped. Constant pressure on Japan's whaling industry by the international community reduced the fleet to sneaking out of port for the 2008-2009 whaling season in a fog of crisis and scandal, desperate to avoid attention. The obvious disarray within the whaling industry, the announcement of a 20 percent reduction in the number of whales to be hunted ths year and the extreme over-reaction by the authorities towards Junichi and Toru shows that we are successfully pulling the rug out from under the whaling industry's feet. It's the beginning of the end, and it's time for Japanese taxpayers to demand their government stop subsidising this bankrupt programme. More than 250,000 of you sent protest emails to the Japanese prime minister, asking for the release of the Tokyo Two. After 26 days in custody, they were released but are still awaiting trial. As the world celebrated the 60th anniversary of the adoption of the Universal Declaration of Human Rights, we took a delegation of people to Japan to declare the arrest of Junichi and Toru an act of political censorship. We told the authorities that we, too, were complicit in working to save the whales. We want to take a lot of you along on this mission. With your help, we will put whaling on trial, and demand justice for the Tokyo Two in 2009. Let's make 2009 a year for success. With your help - whether you make a donation, support us with actions, volunteer, or simply help spread the news - we can continue our work to change attitudes and behaviours, to protect and conserve the environment, and to promote peace. Here's to 2009!

Sending out an SOS for Pacific tuna

08 December 2008 Time and tuna are running out! Busan, Korea, Republic of — Our activists together with Korean environmental group KFEM created a huge human "SOS Tuna" banner on the shores of a beach in Busan, Korea, as a key regional meeting in Korea began this week. This extremely critical meeting will decide the fate of valuable tuna stocks in the Pacific, which are now seriously threatened due to overfishing. The Pacific ocean is rich in marine life and home to over 20 Island Nations. Today, the Pacific supplies over 6 percent of the world's tuna. But overfishing in other areas of the world means more and more boats are moving in, and chasing fewer and fewer fish. Huge industrial tuna boats, capable of catching as many tuna in one trip as some of the countries are able to take in a year, are plundering this vulnerable region at a rate that means trouble for the tuna as well as the people whose livelihoods and futures depend on them. These boats originate from countries like Korea, Japan and Taiwan and feed the ever-increasing appetites for tuna in the luxury Asian, European and US markets.

It's not just about saving some fish

The lives and economies of Pacific Islanders and Pacific Island nations are in peril as big eye and yellow fin tuna stocks are threatened from overfishing. Pacific communities are at the mercy of unscrupulous foreign fishers and our growing global appetite for tuna is in the grip of unfair and unsustainable fishing. We are calling on delegates at this week's Western and Central Pacific Fisheries Commission (WCPFC) meeting in Korea to implement measures for a sustainable and profitable fishing industry. The WCPFC must start putting words into action by agreeing on strong and effective measures. A precautionary and ecosystem-based approach is needed to preserve the rich marine diversity of the Pacific Ocean.

Reduce, protect and reject

There must be an immediate halving of fishing, a closure to fishing in the high seas pockets and an immediate halt to the transfer of fish at sea to discourage piracy. The WCPFC must ensure decisions are not hijacked again by a small minority of nations that are not acting in the best interest of Pacific people, their valuable tuna resources and the health of the Western and Central Pacific Ocean ecosystem. We have one last chance to ensure the bigeye and yellowfin tuna stocks do not face the same fate as bluefin tuna of the Mediterranean. The Commission has to be prepared to face the consequences if negotiations break down to governments and industry ruthlessly bargaining for the last tuna. Our ship, the Esperanza, is present in Korea to bear witness to the WCPFC's decisions, which will dictate the future of Pacific tuna.

Korea should lead by example

We have joined forces with Korean environmental group KFEM to ensure that Korea, as the host nation and key player in the fishery, takes the lead in making sure that this meeting takes action. We need marine reserves which will fully protect the most vulnerable breeding grounds of the tuna from exploitation. We need sustainable management measures outside those areas that will secure a future for this fishery and for the future of the millions of Pacific island people that depend on this resource for their livelihood.

Global day of action - 08 December 2008

Greenpeace activists in India, taking part in the 2008 Global Day of Action for the climate. International — People across the world took to the streets for a Global Day of Action on Saturday, to tell the governments meeting in Poznan, Poland for crucial UN climate negotiations, that the world is watching them. Greenpeace volunteers in 23 countries from Australia to Italy to Mexico to the Philippines to Turkey to the US joined or led a series of protests, demonstrations and outreach events to ensure that Ministers arriving in Poznan listen to the will of their citizens, and get serious about climate action. Here’s a video of the action day in Poznan itself. "The world is watching governments in Poznan" said Mareike Britten, Greenpeace climate and energy campaigner. "Saturday’s actions clearly show that people across the world recognise that it’s time for governments to get serious about climate action." From a flash mob of people in swimming gear in Amsterdam, to protests in Red Square, Moscow to banner messages on Aztec pyramids in Mexico, to installing solar panels in Thailand, and giving a solar powered Parol (a Filipino Christmas lantern) to the Philippine senate, to a giant postcards reading "Dear World Leaders, we are ready to save the climate" in Boston, Chicago, New York and San Francisco, to a boat protest on the Ganga River in India, our map below highlights key Greenpeace activities across the world. Take action! The global day of action is over, but it’s not too late for you tell your government you are watching them. Join activists from around the world by to be projected at the Poznan meetings

Nuclear renaissance meets reality at UN climate talks Mickey Mouse power exposed 10 December 2008

Poznan, Poland — The nuclear industry has had fifty years of massive subsidies and state help – but has delivered only unsafe, expensive power, contamination and waste that will last for thousands of generations. In Poznan, over 350 non-governmental organisations including Greenpeace, Friends of the Earth and WWF told delegates at the UN climate talks that nuclear power is not a climate solution but a dangerous distraction from investment in renewable power and energy efficiency. Representing millions of members in 48 countries, the organisations have proclaimed nuclear power a “Mickey Mouse climate solution” and delivered a global call to keep it out of the Kyoto Protocol’s Clean Development Mechanism (CDM). Unable to pass up the chance of ever more state support and win more taxpayers’ money, the nuclear industry is presenting itself as a practical solution to climate change. One of the privileges this dirty and dying industry wants now is to become eligible for support under Kyoto Treaty mechanisms. If that goes through, a country such as France could finance the construction of a reactor in a developing country by a French firm - giving money to its own companies and claiming “emission allowances” for itself so that it doesn’t have to reduce its own domestic greenhouse gas emissions. The proposal to include nuclear power in the Kyoto Protocol CDM is currently being discussed at the UN Climate talks in Poznan These talks coincide with a run of bad news for the nuclear industry that makes its claims of clean cheap power even harder to justify. Following the news of soaring costs for the European Pressurised Reactors (EPRs) in France and Finland and in the estimated budgets for reactors planned in the US, came the news that South-Africa – till now seen as one of the most promising candidates for a so-called nuclear “renaissance” – is backing off for a while: the planned French reactors are simply too expensive. When the International Atomic Energy Agency (IAEA) presented its pro-nuclear case in Poznan last week, we were there to confront them with reality. And the IAEA had no defence other than to say that things would get better in the future! This is something that we and our parents have been hearing for fifty years now. The IAEA needs to stop dreaming - the climate will not wait and we need to get serious about combating climate change. In order to bring some facts to the debate, Greenpeace has prepared a briefing. Together with other NGOs, we also organised our own official “side event” in Poznan - a specialised session that exposed the facts behind the nuclear “renaissance” smokescreen: nuclear power has been in decline in recent years, with more reactors being closed than built; escalating costs combined with the recent financial crisis are having a devastating effect on the nuclear industry's reputation with financial institutions and bankers. We were delighted to see a crowd of over 100 press and country delegates getting detailed facts on the poor performance of the nuclear industry, something the nuclear industry has been trying to hide from them. This side event alone isn’t going to stop the nuclear lobby trying to sneak in by the backdoor to get its grubby hands on climate mitigation funding. But it’s clear there’s a very depressed mood in the nuclear industry’s camp, and that negotiators and press from all over the whole world are beginning to understand that the nuclear “renaissance” hype is over.

PENYEBAB KONFLIK ANTARA KOMUNITAS OGONI TERHADAP PEMERINTAH dan MNC di DELTA NIGER NIGERIA

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL i
HALAMAN PERSEMBAHAN ii
HALAMAN MOTTO iii
HALAMAN PERNYATAAN iv
HALAMAN PENGESAHAN v
ABSTRAKSI vi
KATA PENGANTAR vii
DAFTAR ISI viii
DAFTAR TABEL ix
DAFTAR GAMBAR x
DAFTAR SINGKATAN xi
BAB I. PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Ruang Lingkup Pembahasan 8
1.2.1 Batasan waktu 8
1.2.2 Batasan Materi 8
1.3 Rumusan Masalah 9
1.4 Tinjauan Pustaka 9
1.5 Kerangka dasar pemikiran 12
1.6 Hipotesa 15
1.7 Metode Penelitian 17
1.7.1 Metode Pengumpulan Data 17
1.7.2 Metode Analisa Data 17
1.8 Sistematika Penulisan 18
BAB II. KEADAAN MINYAK DI DELTA NIGER 19
2.1 Gambaran Umum Nigeria 19
2.1.1 Komunitas Lokal Nigeria 22
2.1.2 Potensi Minyak di Delta Niger 25
2.2 Pemerintahan Lokal Nigeria 28
2.3 Kekuasaan Pemerintah atas minyak 30
2.3.1 Kesepakatan antara MNC dan Pemerintahan 33
2.3.2 Peran dan Tanggung Jawab Pemerintah 39
2.3.3 Peran dan Tanggung Jawab MNC 40
BAB III. MUNCULNYA TUNTUTAN KOMUNITAS OGONI 43
3.1 Degradasi Lingkungan Akibat Produksi Minyak 43
3.1.1 Ledakan Gas 44
3.1.2 Kebocoran Pipa minyak 46
3.1.3 Pencemaran Lingkungan (Air, Tanah Udara) 47
3.2 Pengaruh Perubahan Kualitas Lingkungan Terhadap Komunitas lokal ................................. 49
3.3 Corporatye Social Responsibility Oleh Shell 53
3.4 Awal Mula Munculnya Konflik 56
3.5 Aksi Sabotase dan Penculikan 64

BAB IV. PENYBAB TERJADINYA KONFLIK DELTA NIGER 68
4.1 Weak Goverment 69
4.1.1 Sukresi Politik 71
4.1.2 Mismanagement Pendapatan Minyak 75
4.1.3 Korupsi Pemerintah Lokal 75
4.1.4 Pengaruh Militer atas Pemerintahan 77
4.2 Faktor Sosial Ekonomi 80
4.2.1 Tingginya tingkat Pengangguran 81
4.2.2 Persaingan antar Etnis 85
4.2.3 Terbatasnya Akses Pemenuhan Kebutuhan Dasar 88
4.3 Degradasi Lingkungan Akibat Produksi Minyak 91
4.3.1 Kerusakan-Kerusakan Lingkungan 93
4.3.2 Dampak Degradasi Lingkungan Terhadap Kehidupan Masyarakat 96

BAB V. KESIMPULAN 99
DAFTAR PUSTAKA 100
LAMPIRAN.................. 101

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Bagi Negara-Negara di Afrika, potensi sumber daya alam dan hasil bumi yang melimpah merupakan suatu sumber kekayaan yang sebenarnya dapat menyokong kebutuhan masyarakat dan membantu meningkatkan kesejahteraan negara.1 Keberadaan sumber daya alam yang terutama minyak di Afrika dapat menjadi suatu penopang kebutuhan yang tak terbatas bagi masyarakatnya dan kualitas minyak Afrika yang bermutu tinggi memberiakn kontribusi yang dapat memikat beberapa negara pengimport minyak dunia.2 Sehingga, dalam jarak waktu lima tahun terakhir kepentingan dan kebutuhan terhadap minyak Afrika semakin meningkat dan wilayah Barat Afrika menjadi tempat wilayah penemuan sepertiga minyak di dunia.3
Ternyata dapat dilihat secara jelas bahwa beberapa negara penghasil minyak di Afrika justru mengalami kemunduran dalam kesejahteraan dan masyarakat tidak dapat menikmati hasil dari berlimpahnya potensi yang seharusnya dapat membawa mereka ke dalam kemakmuran dan penyelesaian terhadap berbagia masalah kompleks yang mencakup wilayah tersebut . Bukan hanya tidak lagi mampu memberikan kontribusi yang setara, tetapi malahan keberadaan minyakyang sangat besar justru menciptakan malapetaka bagi masyarakat. Teruatama mereka yang tinggal di sekitar titik-titik sumber minyak.
Masalah penting yang dihadapi oleh wilayah penghasil minyak di Afrika adalah kurangnya kemampuan dalam mengontrol kekayaan alam, yang pada akhirnya berakibat pada mismanagement. Potensi negara-negara Afrika yang lemah dan sumber daya manusia yang tidak kompeten menjadikannya jauh dari kesuksesan pengelolaan sumber-sumber dan semakin mendorong masuknya Afrika ke dalam berbagi konflik dan kekerasan.4 Misalnya, kita dapat melihat berbagai kasus korupsi, intervensi militer, konflik antar etnis dan dominasi politik yang seringkali terjadi dan memperkeruh suasana di wilayah itu.
Seperti yang terjadi di delta Niger, sebuah wilayah dengan kandungan minyak terbesar di Nigeria, kondisi dan ketidakpastian keadaan karena masalah mismanagement minyak telah menjadi suatu endemik yang menodai wilayah kekayaan minyak dan Nigeria secara umum.5 Konflik dan kekacauan perebutan sumber daya alam menjadi suatu hal yang terlihat secara biasa di wilayah selatan Nigeria tersebut. Kekacauan dan timbulnya berbagai macam konflik di Delta Niger secara garis besar diciptakan oleh kehadiran perusahaan –perusahaan multinasional yang bekerjasama dengan pemerintah Nigeria selam berpuluh-puluh tahun.6 Beberapa perusahaan yang beroperasi di sepanjang wilayah dan kehidupan komunitas lokal di Delta Niger. Perusahaan minyak juga membatasi hak-hak komunitas lokal dalam mengolah kekayaan mereka.
Kehadiran perusahaan minyak asing dalam suatu Negara seringkali menampilkan penderitaan dan kemelaratan. Kehadiran perusahaan minyak menimbulkan berbagai macam persoalan ketika pemerintah dan pemerintah lokal tidak siap dengan segala perubahan dan aktifitas yang dilakukan perusahaan minyak. Sejak awal beroperasi, perusahaan minyak di kawasan delta Niger, mengalihfungsikan tanah-tanah pertanian milik warga, hutan mangrove, dan daerah pinggiran sungai sebagai bagian dari pembangunan fasilitas kilang minyak , daerah pengeboran sumur minyak, serta sebagai daerah pembangunan jalur pipa-pipa minyak. Praktis komunitas lokal yang sebelumnya hanya bergantung pada mata pencaharian sektor agraris menjadi kehilangan sumber kehidupan. Areal kontrak perusahaan yang mencapai ratusan ribu hektar, menggusur aktifitas ekonomi dan sosial masyarakat lokal. Bahkan penggusuran tersebut seringkali dilegalkan oleh pemerintah lokal.
Selain itu, pengaruh berdirinya perusahaan-perusahaan asing dalam memberikan kontribusi kekerasan dan kerusuhan di Delta Niger didukung oleh beberapa faktor lain berupa masalah-masalah krusial dalam kehidupan sosial ekonomi, tigginya tingkat kemiskinan, dan kenyataan lemahnya fungsi pemerintahan dan kapabilitas Negara. Komunitas lokal berada dalam posisi yang paling lemah dan menjadi pihak yang dirugikan. Hal-hal tersebut pada akhirnya menciptakan dorongan yang nyata bagi komunitas lokal untuk melakukan berbagai perlawanan terhadap perusahaan-perusahaan minyak dan pemerintahan di area sumber minyak.
Kehidupan social ekonomi di Nigeria belum dapat menopang seluruh bagian kebutuhan masyarakat dan menyebabkan berbagai problematika. Kesalahan pemerintah yang hanya menggantungkan pemenuhan kebutuhan ekonomi sepenuhnya pada keberadaan minyak, dan mengabaikan potensi sector ekonomi yang lain mengakibatkan masyarakat Nigeria, khususnya niger delta tidak memiliki kesempatan dalam menemukan alternative sumber mata pencaharian lainnya untuk meluaskan kesempatan ekonomi, membangun industrialisasi, dan pada akhirnya mereka mengalami kegagalan perekonomian.7
Kegagalan pemerintah dalam pembangunan pondasi perekonomian menyebabkan masyarakat hidup dalam kemiskinan, mengalami keterbatasan pemenuhan kebutuhan dasar dan terjadinya krisis yang berulang-ulang. Berulangnya krisis yang terjadi di wilayah delta Niger juga merupakan hasil akumulasi dari perasaan terabaikannya dan marjinalisasi yang mendalam oleh pemerintah dan perusahaan minyak dalam meningkatkan sumber daya manusia, infrastruktur yang memadai, serta penyediaan kebutuhan dasar untuk masyarakat. Pemerintah federal telah melakukan pengalokasian dana bagi penyediaan infrastruktur seperti penyediaan pelayanan kesehatan, sekolah, dan sarana yang lain. Hal ini digunakan untuk membendung kemiskinan dan kekacauan yang telah terjadi di sana. Ternyata, pengalokasian tersebut tidak selalu berjalan dengan lurus. Dampak yang terjadi akibat operasi perusahaan minyak dan berbagai kekerasan harus terjadi berulang kali dikarenakan adanya praktek korupsi yang dilakukan oleh pemerintah.
Produksi minyak telah meningkatkan sebagian ekonomi penduduk-penduduk Nigeria, tetapi terbatas pada golongan elit politik. Sedangkan penduduk di Nigeria yang lebih dari dua ratus juta orang yang hanya mendapat sebagian besar dari pendapatan telah dicuri atau dihamburkan oleh pemerintahannya sendiri. Nigeria’s Economic and Financial Crimes Commission (EFCC) telah menafsirkan bahwa lebih dari $380 milyar dana public telah dicuri atau dihamburkan oleh pemerintah federal pada publik telah dicuri atau dihamburkan oleh pemerintah federal pada tahun 1960 sampai 1999.8
Korupsi telah memperburuk keadaan di wilayah Delta Niger. Masyarakat semakin terpuruk atas kondisi mereka karena tidak mendapat pembangunan dan pelayanan dari perusahaan minyak dan pemerintah yang baik. Mereka bukan hanya tidak mendapat bagian dari kekayaan yang mereka miliki, bahkan semakin miskin di tengah kekayaan yang berlimpah. Lahan kering dan tak subur, sungai menghitam, diskriminasi antar etnis mayoritas dan minoritas, ditambah ketidakstabilan ekonomi serta perebutan kekuasaan atas minyak semakin menambah tingginya tingkat kemiskinan.
Akhirnya berbagai bentuk penderitaan dan penyalahgunaan hak terhadap masyarakat Delta Niger tersebut membuahkan inisiatif dalam melakukan aksi-aksi penyerangan terhadap perusahaan minyak yang dianggap sebagai akar penyebab dari semua masalah ini. Perebutan hasil sumber daya alam, keikutsertaan militer yang berlebih, pertikaian antar etnis, hingga degradasi lingkungan yang mempengaruhi kehidupan komunitas membuat berbagai aksi-aksi komunitas lokal, dan milisi-milisi lokal yang terus berlanjut hingga saat ini.
Komunitas lokal di delta Niger meyakini bahwasanya degradasi lingkungan terbesar disebabkan oleh kehadiran perusahaan minyak Shell. Shell merupakan merger dua perusahaan besar, Royal Dutch Petrolium Company dari Belanda dan Shell Transport and Trading Ltd dari Inggris. Diantara berbagai perusahaan minyak yang tinggal di Delta Niger, Shell menguasai 60% dari keseluruhan Pasar minyak domestik di Nigeria. Kebanyakan fasilitas operasi milik Shell berada di kawasan Delta Nger. Keberadaan Shell telah secara serius mengancam kehidupan komunitas lokal di sana. Operasi minyk menghasilkan berbagai bentuk polusi minyak di lingkungan mereka, bila dahulu bertani dan mencari ikan mudah dilakukan, tetapi seiring dengan berjalannya waktu mnjadi hal yang sangat sulit dillakukan di Delta Niger. Kelangkaan akses terhadap air bersih, munculnya beragam penyakit dan ancaman kekurangan gizi sering menjadi sesuatu hal yang biasa. Kehadiran perusahaan minyak juga menambahefek negatife di dalam perokonomian lokal dan masyarakat, seperti kehilangan kepemilikan tanah, inflasi harga, prostitusi, dan sebagainya.9
Secara signifikan penyerangan komunitas lokal terhadap perusahaan minyak dimulai pada tahun 1990an. Hal ini dimulai ketika terdapat tuntutan dan protes dari komunitas setempat khususnya Ogoni. Komunitas Ogoni yang menamakan dirinya MOSOP (the Movement for the survival of the Ogoni people) dibawah pimpinan Ken Saro Wiwa, menginginkan adanya kompensasi dan pertanggungjawaban atas kerugian yang meraka dapatkan . Komunitas Ogoni yang di wilayah sumber minyak, sangat menderita akibat dampak yang di hasilkan perusahaan minyak tersebut. Adanya ledakan gas yang mencemari udara , kebocoran pipa minyak yang mengotori permukaan lahan pertanian mereka, kerusakan parah pada hutan dan rawa hingga akhirnya berujung pada hilangnya mata pencaharian, serta hilangnya hak atas tanah mereka. Namun protes yang dilakukan tersebut ternyata tidak mendapatkan respon dari pemerintah dan MNC dalam memperbaiki keadaan menjadi yang seperti mereka inginkan, tetapi malah membawa konflik yang berkepanjangan. Protes yang dilakukan kemudian berkembang menjadi tindakan penculikan anggota staff perusahaan minyak, pengrusakan pipa aliran minyak dan sabotase terhadap fasilitas munyak lainnya.
Melalui penjelasan ini serta didasarkan pada fakta bahwa adanya kekacauanan dan ketidakstabilan keadaan yang semakin parah, penulis berusaha untuk mengkaji konflik di Delta Niger akibat adanya sumber daya minyak yang begitu melimpah. Melihat keanekaragamanya perusahaan minyak dan komunitas etnik lokal disana maka diperlukan satu contoh kasus agar pembahasan bisa terfokus dan bisa dikaji secara ilmiah. Penulis tertarik untuk menganalisa penyebab munculnya tuntutan dari komunitas lokal Ogoni terhadap pemerintah dan perusahaan minyak Royal Dutch Shell yang berujung pada konflik.
Oleh karena itu, penulis mengkaji dalam penulisan ilmiah yang berjudul:
“PENYEBAB KONFLIK ANTARA KOMUNITAS OGONI TERHADAP PEMERINTAH dan MNC di DELTA NIGER, NIGERIA”

1.2 Ruang Lingkup Pembahasan
Untuk membatasi ruang lingkup dan kemungkinan terjadi penyimpangan masalah serta mencegah kerancuan pengertian yang mungkin terjadi, maka penulis memilah ruang lingkup pembahasan menjadi dua:

1.2.1 Batasan Materi
Batasan materi yang akan diberikan penulis dalam mengkaji penulisan ini adalah penyebab munculnya tuntutan yang berimbas pada terjadinya konflik antara komunitas Ogoni,pemerintah dan Shell atas keberadaan minyak di Delta Niger, Nigeria. Dalam member penjelasan terhadap penyebab terjadinya konflik, penulis membagi analisa variabel-variabel penyebab terjadinya konflik dan akan memberikan pembahasan mengenai dampak dari berdirinya perusahaan minyak asing terhadap lingkungan dan kepada kehidupan masyarakat sekitar, peran dan keikutsertaan militer dalam konflik tersebut, posisi etnik minoritas pada komunitas produksi minyak dan adanya praktek korupsi yang dilakukan pemerintah dalam mengalokasikan dana kompensasi dari perusahaan asing yang sebenarnya ditujukan untuk pembangunan masyarakat.

1.2.2 Batasan Waktu
Batasan waktu yang ditujukan pada penulisan ini adalah pada awal tahun 1990-an sejak semakin luasnya konflik antara masyarakat Ogoni yang tergabung dalam MOSOP terhadap pemerintah perusahaan minyak khususnya Shell sampai pada tahun 2003 yang ditandai oleh penyerangan terhadap instalasi dan staff perusahaan minyak Shell di Delta Niger serta adanya peledakan pipa minyak di Rumuepke yang menewaskan lebih dari 100 orang penduduk lokal.

1.3 Rumusan Masalah
Komunitas Ogoni yang bertugas di Delta Niger seharusnya ikut serta menikmati kekayaan alam yang terdapat di wilayah tersebut. Tetapi pada kenyataannya meraka harus hidup dalam lingkaran kemiskinan dalam jangka waktu yang panjang.kekacauan dan ketidakpastian keadaan menimbulkan keresahan yang mendalam dan meyebabkan munculnya tuntutan kepada pemerintah dan Shell. Sebenarnya pihak Shell telah memenuhi kewajiban mereka dengan memberikan kompensasi terhadap pendapatan minyak kepada pemerintah. Pemerintah yang seharusnya menggunakan dana pembangunan untuk masyarakat justru terlibat dalam suatu siklus korupsi yang begitu buruk sehingga dana untuk pembangunan tidak tersalurkan dengan baik. Kenyataan bahwa Nigeria menjadi negara yang semakin miskin menyebabkan beberapa gerakan mengadakan protes dalam masyarakat Ogoni dan mendorong meletusnya konflik. Sesuai dengan latar belakang penulisan tersebut maka penulis mengajukan suatu permasalahan yaitu:
“Mengapa terjadi konflik antara komunitas Ogoni, Pemerintah dan Royal Dutch Shell di Delta Niger,Nigeria ?”

1.4 Tinjauan Pustaka
Dalam artikel yang berjudul Ogoni and Oil dari www.americanedu.org, menjelaskan bahwa munculnya gerakan kekerasan yang dilakukan oleh masyarakat lokal, yaitu Ogoni pada perusahaan minyak asing disebabkan oleh kerusakan lingkungan dan kerusakan sumber perekonomian pada wilayah untuk komunitas lokal. Pemerintah Federal Nigeria telah gagal dalam memerankan dan menjalankan proteksi terhadap lingkungan sebagai dampak produksi minyak yang dilakukan oleh Shell dan perusahaan minyak lainnya yang ada disana. Pemerintah Federal juga bertindak keras pada komunitas lokal yang dianggap mengorganisir aksi protes dan sabotase terhadap fasilitas minyak dengan cara represif (intimidasi,pemukulan, pemenjaraan dan bahkan berujung divonis hukuman mati).
Selajutnya, artikel ini juga menjelaskan bahwa komunitas Ogoni tidak menerima keuntungan atas operasi minyak disana. Strategi pembangunan yang hanya difokuskan pada peningkatan investasi luar negeri dalam industri minyak Nigeria ternyata tidak membawa menuju kemajuan pembangunan. Pendapatan yang diperoleh hanya digunakan untuk keuntungan perusahaan minyak asing daripada untuk komunitas lokal. Pada kenyataannya, komunitas lokal lebih dimiskinkan dengan terjadinya degradasi lingkungan akibat produksi minyak. Kesejahteraan komunitas lokal juga terhambat oleh rezim militer yang bekerja sama dengan perusahaan minyak asing dalam mengeksplorasi sumber daya minyak Nigeria.
Sesuai dengan penjelasan di atas maka penulis sependapat dengan tulisan yang dikemukakan dalam artikel tersebut, bahwa salah satu faktor yang menyebabkan serangan masyarakat Ogoni pada perusahaan minyak asing adalah degradasi lingkungan yang disebabkan aktifitas industri minyak. Dalam pembahasan selanjutnya, penulis menambahkan beberapa faktor yang tidak dituliskan dalam artikel ini seperti keberadaan korupsi dan mismanagement pendapatan produksi minyak yang dilakukan pemerintah.
Pandangan yang dikemukakan artikel lain adalah bahwa penyebab konflik di Delta Niger disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu historis, sosial ekonomi, politik lingkungan dan intervensi eksternal.10
Penjelasan faktor-faktor tersebut bagaimana berikut:
1.Faktor Historis yaitu kegagalan pemerintah membangun perekonomian yang kokoh bagi perkembangan kesejahteraan rakyat di kawasan Delta Niger. Hal ini sangat kontradiktif dengan banyaknya devisa Negara yang dapat diraih dari eksplorasi kekayaan alam di kawasan tersebut.
2.Faktor Sosial Ekonomi, yaitu tingginya tingkat kemiskinan dan tingginya tingkat pengangguran di Nigeria. Kenyataannya tersebut diperparah dengan kegagalan pemerintah Nigeria untuk memenuhi kebutuhan dasar penduduknya, yang ironisnya menghuni kawasan dengan cadangan minyak dan gas bumi terbesar di dunia, telah memicu kekerasan dan rasa frustasi di seluruh level masyarakat.
3.Faktor Politik, berupa warisan historis dari junta militer dan kekerasan yang diterapkan tidak mengalami perubahan fundamental sejak tahun 1999,transisi yang terjadi hanya mampu membawa arus demokrasi yang nominal pada masyarakat. Tentara nasional tetap eksis dalam memberi perlindungan dan keamanan bagi pihak perusahaan minyak serta melindungi pejabat sipil yang melanggar janji-janji politiknya terhadap rakyat, namun tidak bagi masyarakat sipil.
4.Faktor Lingkungan, berupa degradasi lingkungan sebagai dampak aktifitas perusahaan minyak sejak tahun 1960. Degradasi lingkungan tersebut memberi efek negatif yang kuat bagi kehidupan penduduk awam Delta Niger.
5.Faktor intervensi Eksternal, berupa kegagalan donor-donor asing, kecuali Uni Eropa, untuk memberi dukungan terhadap pembentukan masyarakat sipil di Niger Delta. Hal itu menampakkan bahwa komunitas internasional telah memasrahkan upaya-upaya pembangunan di tangan korporasi-korporasi minyak.
Penulis sependapat tentang analisis yang ditulis dalam artikel tersebut yang memberikan penjelasan mengenai beberapa hal penyebab konflik dengan menekankan pada beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut mempunyai peluang dalam meningkatkan intensitas konflik di Delta Niger. Namun dalam tulisan ini, penulis menganalisa penyebab terjadinya konflik di Delta Niger melalui beberapa faktor yang berpengaruh secara signifikan dalam menyebabkan konflik yaitu faktor politik, faktor sosial ekonomi, kerusakan lingkungan akibat limbah minyak dan kerjasama antara Negara (state) dengan perusahaan minyak asing (MNC) karena menurut penulis dari keempat faktor itulah akar konflik mulai terjadi. Oleh sebab itu pada bagian selanjutnya penulis akan membuat kerangka dasar pemikiran untuk memperkuat argumen utama dalam tulisan ini.

1.5 Kerangka Dasar Pemikiran
Penulis menggunakan teori sebagai pedoman dalam proses pengujian data dan menganalisis permasalahan yang ada. Untuk memberikan pembahasan yang lebih tepat dan rinci yang diambil dari teori konflik yang ada, maka penulis akan memberikan pemikiran mengenai “konflik internal” yang ditulis oleh Michael. E. Brown. Menurut Michael. E. Brown, konflik internal merupakan kekerasan pertikaian politik yang asal mulanya dapat ditelusuri terutama ke dalam ruang lingkup intrastate daripada interstate. Kekerasan militer rmengambil bagian (atau ancaman untuk mengambil bagian) terutama dalam batasan single state.
Konflik internal adalah kekerasan yang melibatkan pemimpin sipil dan militer yang ditambah dengan organisasi kriminal untuk kedaulatan negara dan perjuangan ideologi dan juga adanya konflik etnis dan kampanye pemisahan. Beberapa konflik internal terjadi tanpa kekerasan dimana penyelesaiannya melalaui pembangunan politik, ekonomi, dan mekanisme sosial. Pada sebagian konflik internal, aktor kunci adalah pemerintah dan kelompok pemberontak, tetapi ketika struktur negaranya lemah atau tidak eksis, kelompok tersebut bertarung diantara mereka sendiri.11
Teori yang dikemukakan Brown membantu kita untuk memahami kompleksitas konflik internal yang tidak bisa dijelaskan hanya oleh satu faktor atau variabel sehingga variabel-variabel tersebut masuk dalam kategori underlying causes of conflict (penyebab utama konflik) dan proximate causes (penyebab pemicu konflik). Secara lebih spesifik Brown memberikan penekanan pada pengaruh kebijaksanaan atau perilaku elit pemimpin sebagai salah satu faktor yang menyebabkan adanya ledakan konflik di suatu wilayah. Brown tidak membantah bahwa faktor struktural, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan perceptual menjadikan suatu wilayah rentan terhadap konflik tetapi tetap tidak mengabaikan peran dari elit pemimpin yang memicu terjadinya konflik. Tulissan ini juga bertolak belakang dari argumen Brown yang berkaitan dengan perilaku elit politik sehingga penulis beranggapan sangat relevan dan akurat untuk menjelaskan konflik internal yang terjadi di Delta Niger. Ketidaksetaraan pemerintah federal dalam memberikan alokasi untuk pembangunan masyarakat di stiap wilayah, korupsi dalam setiap level pemerintahan serta kesempatan ekonomi yang begitu kecil bagi masyarakat lokal untuk ikut serta dalam mengolah sumber daya alam yang menjadi bagian milik mereka.

Tabel 1: Sebab-sebab Konflik Internal dan Konflik Etnik
Faktor Struktural
Faktor Ekonomi/ Sosial
Negara lemah
Kekhawatiran terhadap keamanan internal
Geografi Etnis
Masalah ekonomi
Sistem ekonomi yang diskriminatif
Pembangunan ekonomi dan modernisasi
Faktor Politik
Faktor Sosial Budaya
Lembaga politik yang diskriminatif
Ideologi nasional yang eksklusif
Politik antar kelompok
Politik elit
Pola diskriminasi budaya
Sejarah kelompok yang bermasalah
Sumber : Michael E Brown. Ethnic and Internal Conflict, dalam Chester, A Crocker. Turbulent Peace The Chalenges of Managing Internasional. United States of Institute of Peace Press. Washington D.C, 2002. Proximate causes.
Selain tersedianya faktor-faktor di atas, Brown juga membagi proximate causes menjadi 2 level untuk membedakan penyebab pemicu dari konflik internal dan etnik, yaitu:
1. Elite level sebagai oposisi untuk faktor level massa
2. Internal sebagai oposisi untuk pembangunan eksternal12
Tabel 2: Sebab-sebab Pemicu Konflik Internal dan Konflik Etnik

Internally Driven
Externally Driven
Elite level
Bad leaders
Bad Neighbours
Mass level
Bad domestic problems
Bad Neighborhoods
Sumber : Michael E. Brown, Ethnic and Internal Conflict, dalam Chester, A. Crocker (ed). Turbulent Peace The Chalenges of Managing Internasional, United States of Institute of Peace Press, Washington D.C, 2002.

Oleh karena itu, berdasarkan faktor pemicu dan dimana fenomena itu terjadi, maka konflik dapat disebabkan oleh empat kombinasi faktor yang berbeda yaitu: bad domestic problems, bad neighborhoods, bad neighbors, dan bad leaders. Penulis lebih melihat konflik yang terjadi di Nigeria termasuk dalam bad domestic problems karena faktor-faktor pemicu bersal dari sisi internal dan terjadi fenomena di kalangan mayarakat luas.
1.6 Argumen Utama
Berdasarkan permasalahan yang telah dipaparkan di atas maka penulis merumuskan bahwa konflik yang terjadi di Delta Niger antara perusaahan minyak Shell dan komunitas lokal Ogoni adalah hasil dari kekerasan dan pertikaian internal yang diakibatkan oleh beberapa faktor yaitu faktor politik berupa pemerintahan yang lemah, faktor sosial ekonomi berupa tingkat keniskinan yang begitu tinggi dan ketergantungan negara yang begitu besar terhdap keberadaan perusaahan minyak asing (MNC). Indikator dari lemahnya pemerintah adalah seringnya terjadi pergantian kekuasaan akibat tingginya persaingan dalam memperoleh jabatan politik, adanya mismanagement pendapatan minyak dalam setiap level pemerintahan, tingginya tingkat koupsi yang dilakukan pejabat pemerintah atas pendapatan minyak dan pengaruh militer yang cukup kuat dalam konflik.
Faktor sosial ekonomi yang memicu terjadinya konflik adalah tingginya tingkat kemiskinan di masyarakat dengan indikator tingginya tingkat pengangguran terutama di kalangan muda, tingginya tingkat sabotase dan penculikan karyawan perusaahan minyak untuk meminta bagian hasil penjualan minyak, kompetisi antar tiap etnik dalam masyarakat untuk memperebutkan kekayaan minyak di sana, buruknya akses terhadap fasilitas pemenuhan kebutuhan dasar seperti layanan kesehatan, akses terhadap air bersih, pendidikan, pekerjaan, perlindungan hokum serta adanya diskriminasi terhadap etnis minoritas.
Nigeria telah membuat suatu kesepakatan dengan beberapa perusaahan minyak asing mengenai pembagian pendapatan atas produksi minyak yang membuat ketergantungan negara begitu tinggi terhadap produksi minyak. Tidak adanya pembaharuan perjanjian minyak menyebabkan MNC menempati posisi dominan dalam produksi minyak sehingga hasilnya lebih banyak jatuh ke tangan MNC. Selain itu dengan adanya operasi minyak yang menghasilkan pendapatan luar biasa menyebabkan pembangunan ekonomi hanya terfokus pada investasi minyak dan mengabaikan sektor ekonomi yang lain.
Sedangkan degradasi lingkungan yang sangat parah merupakan intervening variable adanya tuntutan dari komunitas local Ogoni. Komunitas Ogoni menjadi pihak yang paling dirugikan karena di satu sisi mereka berhadapan dengan degradasi lingkungan yang begitu parah dan di sisi yang lain mereka harus berhadapan dengan pemerintahan yang sama sekali tidak memperdulikan nasib mereka. Keterbatasan dalam mencari sumber penghidupan membuat mereka frustasi dan pada akhimya terwujud dalam gerakan-gerakan protes kepada Shell melalui cara kekerasan yang berujung pada konflik. Kebocoran-kebodoran inilah yang juga menjadi penyebab konflik di sana. Konflik inilah yang kemudian penulis rumuskan sebagai variabel dependent.
Selanjutnya penulis merumuskan arguman utama sebagai berikut:
Adanya tuntutan dari komunitas Ogoni di Delta Niger terhadap pemerintah dan MNC disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu faktor politik, berupa pemerintahan yang lemah, faktor sosial ekonomi berupa tingkat kemiskinan yang begitu tinggi dan ketergantungan Negara yang begitu besar terhadap keberadaan MNC (variable independent). Sebagai intervening variabel adalah adanya degradasi lingkungan yang mendorong munculnya pemberontakan dari komunitas lokal Ogoni. Komunitas lokal Ogoni menjadi pihak yang paling dirugikan karena mereka tidak ikut menikmati hasil dari penjualan minyak. Disatu sisi mereka berhadapan dengan degradasi lingkubgan dan di sisi yang lain mereka harus berhadapan dengan pemerintahan yang sama sekali tidak memperdulikan nasib mereka. Keterbatasan dalam mencari sumber penghidupan membuat mereka frustasi dan pada akhirnya terwujud dalam gerakan-gerakan protes kepada pemerintah dam Shell. Protes dan tuntutan damai tang tidak mendapat respon dari pihak Shell dan pemerintah pada akhirnya berubah menjadi konflik yang semakin berlarut-karut(variable dependent).

1.7 Metode Penelitian
Penggunaan metode penelitian diperlukan untuk menuntun kita didalam melakukan sebuah penelitian. Dengan demikian penelitian akan lenih obyektif dan mendekati kebenaran. Didalam merumuskan metode penelitian, penulis membagimya ke dalam dua teknik penulisan.

1.7.1 Metode Pengumpulan Data
Dalam menyusun suatu penelitian, kualitas data ditentukan oleh kualitas alat pengambil data atau alat pengukurnya. Dalam menggunakan data-data yang relevan, penulis mencoba untuk menggunakan metode observasi melalui studi literatur atau analisa. Observasi dilakukan melalui pencarian data yang relevan melalui:
1. Lembaga yang tersedia (Perpustakaan Pusat dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember)
2. Media cetak dan elektronik, baik internet, koran mauaun jurnal
3. Buku koleksi pribadi.

1.7.2 Metode Analisis Data
Metode analisis data memberikan uraian tentang bagaimana mengolah data dari awal. Data mentah yang telah didapat kemudian secara sistematis diurutkan sehingga dapat sesuai dengan topik permasalahan yang diangkat. Analisis data kemudian diolah untuk diinterpretasikan sehingga menjadi suatu pemahaman terhadap informasi. Dan kemudian dideskripsikan terhadap teori dan konsep yang ada. Dalam menganalisis data tsb, penulis menggunakan metode deduktif. Metode deduktif teknik menganalisis dengan mengembangkan teori yang ada sesuai fakta-fakta umum yang tersedia dan kemudian menarik generalisasi yang bersifat khusus. Dalam hal ini, metode deduktif akan menjelaskan suatu peristiwa debgab mempertimbangkan kesinpulan sebagai konsekuensi logis dari praduga yang digunakan.

1.8 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan yang diajukan oleh penulis untuk membahas permasalahan dalam skripsi ini antara lain sebagai berikut: BAB 1 berisi tentang latar belakang permasalahan atau alasan pemilihan judul, batasan materi, rumusan masalah, tinjauan pustaka, kerangka teori, argumen utama serta metodologi penelitian. Selanjutnya dalam BAB II penulis akan menjelaskan gambaran umum tentang Nigeria. Dalam bab ini penulis juga menjelaskan potensi minyak yang ada di Nigeria beserta kekuasaan yang dimiliki pemerintah atas minyak. Penulis juga menjelaskan kesepakatan kerjasama antara pemerintah dan perusaahan minyak asing yang terdapat disana.
BAB III akan berisi penjelasan mengenai degradasi lingkungan yang menjadi faktor pengantara terjadinya konflik di Delta Niger. Nigeria. Dalam bab ini, penulis juga awal mula munculnya tuntutan dari lomunitas Ogoni terhadap pemerintah dan MNC. Bab ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa protes dan tuntutan damai yang dilakukan oleh komunitas Ogoni berubah menjadi gerakan kekerasan yang berujung pada terjadimya konflik dengan indikator adanya sabotase dan penculikan karyawan MNC.
Pada BAB IV akan dijelaskan penyebab-penyebab terjadinya tuntutan dari komunitas Ogoni yang berujung pada terjadinya konflik. Tulisan ini akan diakhiri pada BAB IV. Bab ini akan berisi kesimpulan dari semua pembahasan yang telah disampaikan pada bab-bab sebelumnya.

BAB V
KESIMPULAN
Masuknya perusaahan asing dalam suatu negara bias menimbulkan dampak negatif apabila negara tersebut tidak siap dengan segala perubahan dan segala konsekuensi yang terjadi sebagai dampak operasi pengelolaan minyak. Seperti yang terjadi di Delta Niger, keberadaan sumber daya minyak yang begitu melimpah mendoromg masuknya berbagai prusaahan minyak asing untuk beroperasi di sana. Kehadiran perusaahan minyak asing yang sebelumnya diharapkan bias membawa kemajuan dan perubahan ternyata menjadikan Nigeria mengalami ketergantungan yang luar biasa pada sektor minyak. Rendahya SDM dari masyarakat Delta Niger juga menjadi salah satu hal yang menyebabkan minimnya patisipasi rakyat lokal dalam perusaahan minyak asing.
Konflik yang terjadi di Delta Niger antara pemerintah, perusaahan minyak Shell, dan komunitas lokal Ogoni adalah hasil dari kekerasan dan pertikaian internal yang diakibatkan oleh beberapa faktor, faktor politik berupa pemerintahan yang lemah, faktor sosial ekonomi berupa tingkat keniskinan yang begitu tinggi dan ketergantungan negara yang begitu besar terhdap keberadaan perusaahan minyak asing (MNC). Indikator dari lemahnya pemerintah adalah seringnya terjadi pergantian kekuasaan akibat tingginya persaingan dalam memperoleh jabatan politik, adanya mismanagement pendapatan minyak dalam setiap level pemerintahan, tingginya tingkat koupsi yang dilakukan pejabat pemerintah atas pendapatan minyak dan pengaruh militer yang cukup kuat dalam konflik.
Faktor sosial ekonomi yang memicu terjadinya konflik adalah tingginya tingkat kemiskinan di masyarakat dengan indikator tingginya tingkat pengangguran terutama di kalangan muda, tingginya tingkat sabotase dan penculikan karyawan perusaahan minyak untuk meminta bagian hasil penjualan minyak, kompetisi antar tiap etnik dalam masyarakat untuk memperebutkan kekayaan minyak di sana, buruknya akses terhadap fasilitas pemenuhan kebutuhan dasar seperti layanan kesehatan, akses terhadap air bersih, pendidikan, pekerjaan, perlindungan hukum serta adanya diskriminasi terhadap etnis minoritas.
Nigeria telah membuat suatu kesepakatan dengan beberapa perusaahan minyak asing mengenai pembagian pendapatan atas produksi minyak yang membuat ketergantungan negara begitu tinggi terhadap produksi minyak. Tidak adanya pembaharuan perjanjian minyak menyebabkan MNC menempati posisi dominan dalam produksi minyak sehingga hasilnya lebih banyak jatuh ke tangan MNC. Selain itu dengan adanya operasi minyak yang menghasilkan pendapatan luar biasa menyebabkan pembangunan ekonomi hanya terfokus pada investasi minyak dan mengabaikan sektor ekonomi yang lain.
Sedangkan degradasi lingkungan yang sangat parah merupakan intervening variable adanya tuntutan dari komunitas local Ogoni. Komunitas Ogoni menjadi pihak yang paling dirugikan karena di satu sisi mereka berhadapan dengan degradasi lingkungan yang begitu parah dan di sisi yang lain mereka harus berhadapan dengan pemerintahan yang sama sekali tidak memperdulikan nasib mereka. Keterbatasan dalam mencari sumber penghidupan membuat mereka frustasi dan pada akhimya terwujud dalam gerakan-gerakan protes kepada Shell melalui cara kekerasan yang berujung pada konflik. Kebocoran-kebodoran inilah yang juga menjadi penyebab konflik di sana. Konflik inilah yang kemudian penulis rumuskan sebagai variabel dependent.
Nigeria yang memiliki sumber daya yang begitu melimpah harus berada di bawah kontrol perusaahan minyak asing karena merekalah yang mengatur jalannya operasi produksi minyak. Tidak adanya pembaharuan perjanjian (joint ventures) antara perusaahan minyak asing dan pemerintah dalam jangka waktu yang lama mengakibatkan keuntungan yang diterima pemerintah tidak sesuai dengan harga minyak dunia. Jumlah keuntungan yang diterima oleh pemerintah ketika harga minyak turun dapat dipastikan tidak berubah pada saat harga minyak dunia naik. Inilah salah satu ekonomi politik perusaahan transnasional yang digunakan dalam mengatur perekonomian suatu negara. Sebelum masuknya perusaahan minyak asing di kawasan Delta Niger, masyarakat lokal bisa mandiri dengan industri dari sektor agraris dan mereka dapat menguasai pasar domestik. Perusaahan asing terbukti telah berhasil menciptakan ketergantungan masyarakat pada minyak. Situasi yang demikian telah menyebabkan kekacauan dan ketidakstabilan keadaan di Delta Niger, Nigeria.

DAFTAR PUSTAKA
Brown, Michael E. 2002. Ethnic and internal conflict and turbulent peace the challenges of ianaging international. Wshington DC: United States os institutes of peace press.
Calvert, peter. 1995. Proses Suksesi Politik terjemahan Mizbah Zulfa Elizabeth. Yogyakarta: PT Tiara Wacana.
David, Moffat and Olof , Linden. 1995 “Perception and Reality: Assesing Piorities for Sustainable Development in the Niger River Delta”. Ambio( a Journal Of the Human Environment), Vol 24 no 7-8, Desemeber (Stockholm: Royal Swedish Academy of Science.
Eweje, G. 2007. ” Multinasional oil companies Csr initiatives in nigeria managerial law: the sceptisicm of stake holder in house communities”, New Zealand Departement of Management and International Business Collage of Business. Vol 49, Issue 5-6, Page 218- 235.
Gayo, Iwan. 2004. Buku pintar seri senic. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Jones, Nick Ashton. 1998. The ERA Handbook to the Niger Delta and The Human Ecosystem of the Niger Delta. London and Benin City: Environmental Right Action.
Lao Hamuluk, Buletin Vol 5. Nomor Tiga sampai Empat.
Mas’oed, Mohtar. 1990. Ilmu Hubungan Internasional Disiplin dan Metodologi. Jakarta: LP3ES.
Mas’oed, Mohtar. 1989. Studi Hubungan Internasional Tingkat Analisis dan Teorisasi. Yogyakarta: Pusat Antar Universitas-Universitas Yogyakarta.
Compas, Energy vol 9. no 15, 10 April 1998, London.